Tugas 4 IMK
Nama : iqbal mustakim
Nim : 8040210199
Metode Waterfall – Definisi dan Tahap-tahap Pelaksanaannya
Dalam membangun sistem secara keseluruhan perlu dilakukan beberapa tahapan/langkah. Metode pengembangan perangkat lunak dikenal juga dengan istilah Software Development Life Cycle (SDLC). Metode Waterfall merupakan metode pengembangan perangkat lunak tertua sebab sifatnya yang natural. Metode Waterfall merupakan pendekatan SDLC paling awal yang digunakan untuk pengembangan perangkat lunak. Urutan dalam Metode Waterfall bersifat serial yang dimulai dari proses perencanaan, analisa, desain, dan implementasi pada sistem.
Metode ini dilakukan dengan pendekatan yang sistematis, mulai dari tahap kebutuhan sistem lalu menuju ke tahap analisis, desain, coding, testing/verification, dan maintenance. Langkah demi langkah yang dilalui harus diselesaikan satu per satu (tidak dapat meloncat ke tahap berikutnya) dan berjalan secara berurutan, oleh karena itu di sebut waterfall (Air Terjun).

Ian Sommerville (2011) menjelaskan bahwa ada lima tahapan pada Metode Waterfall, yakni Requirements Analysis and Definition, Sytem and Software Design, Implementation and Unit Testing, Integration and System Testing, dan Operationa and Maintenance.
Sedangkan menurut Pressman langkah-langkah dalam Metode Waterfall dimuai dari Requirement, Design, Implementation, Verification, dan Mintenance.
Tahapan Dalam Melakukan Metode Waterfall
Requirement Analysis
Sebelum melakukan pengembangan perangkat lunak, seorang pengembang harus mengetahui dan memahami bagaimana informasi kebutuhan penggguna terhadap sebuah perangkat lunak. Metode pengumpulan informasi ini dapat diperoleh dengan berbagai macam cara diantaranya, diskusi, observasi, survei, wawancara, dan sebagainya. Informasi yang diperoleh kemudian diolah dan dianalisa sehingga didapatkan data atau informasi yang lengkap mengenai spesifikasi kebutuhan pengguna akan perangkat lunak yang akan dikembangkan.
System and Software Design
Informasi mengenai spesifikasi kebutuhan dari tahap Requirement Analysis selanjutnya di analisa pada tahap ini untuk kemudian diimplementasikan pada desain pengembangan. Perancangan desain dilakukan dengan tujuan membantu memberikan gambaran lengkap mengenai apa yang harus dikerjakan. Tahap ini juga akan membantu pengembang untuk menyiapkan kebutuhan hardware dalam pembuatan arsitektur sistem perangkat lunak yang akan dibuat secara keseluruhan.
Implementation and Unit Testing
Tahap implementation and unit testing merupakan tahap pemrograman. Pembuatan perangkat lunak dibagi menjadi modul-modul kecil yang nantinya akan digabungkan dalam tahap berikutnya. Disamping itu, pada fase ini juga dilakukan pengujian dan pemeriksaan terhadap fungsionalitas modul yang sudah dibuat, apakah sudah memenuhi kriteria yang diinginkan atau belum.
Integration and System Testing
Setelah seluruh unit atau modul yang dikembangkan dan diuji di tahap implementasi selanjutnya diintegrasikan dalam sistem secara keseluruhan. Setelah proses integrasi selesai, selanjutnya dilakukan pemeriksaan dan pengujian sistem secara keseluruhan untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya kegagalan dan kesalahan sistem.
Operation and Maintenance
Pada tahap terakhir dalam Metode Waterfall, perangkat lunak yang sudah jadi dioperasikan pengguna dan dilakukan pemeliharaan. Pemeliharaan memungkinkan pengembang untuk melakukan perbaikan atas kesalahan yang tidak terdeteksi pada tahap-tahap sebelumnya. Pemeliharaan meliputi perbaikan kesalaha, perabikan implementasi unit sistem, dan peningkatan dan penyesuaian sistem sesuai dengan kebutuhan.
sumber : https://lp2m.uma.ac.id/2022/06/07/metode-waterfall-definisi-dan-tahap-tahap-pelaksanaannya/
V-Model (SDLC) : Definisi dan Cara Menggunakannya
Proses Dalam V-Model
V-Model adalah metodologi pengembangan linier unik yang digunakan selama siklus hidup pengembangan perangkat lunak (SDLC). V-Model berfokus pada metode mirip air terjun yang mengikuti tahapan langkah demi langkah yang ketat. Meskipun tahap awal adalah tahap desain yang luas, kemajuan berlanjut melalui tahap yang semakin terperinci, mengarah ke implementasi dan pengkodean, dan akhirnya kembali melalui semua tahap pengujian sebelum proyek selesai.
Dalam artikel ini kita akan memeriksa apa yang sebenarnya diperlukan oleh V-Model, dan mengapa itu mungkin (atau mungkin tidak) cocok untuk jenis proyek atau organisasi tertentu.
Sama seperti model air terjun tradisional, Model-V menetapkan serangkaian tahapan linier yang harus terjadi di seluruh siklus hidup, satu per satu, hingga proyek selesai. Karena alasan ini V-Model tidak dianggap sebagai metode pengembangan yang gesit, dan karena banyaknya tahapan dan integrasinya, memahami model secara detail dapat menjadi tantangan bagi semua orang di tim, apalagi klien atau pengguna.
Untuk memulai, yang terbaik adalah memvisualisasikan tahapan kasar Model-V, seperti yang terlihat pada diagram di bawah ini.
Bentuk V dari metode V-Model merepresentasikan berbagai tahapan yang akan dilalui selama siklus hidup pengembangan perangkat lunak. Dimulai dari tahapan kiri atas dan bekerja, seiring waktu, menuju ujung kanan atas, tahapan mewakili perkembangan linier pengembangan yang mirip dengan model air terjun.
Di bawah ini kami akan membahas secara singkat masing-masing dari sekitar sembilan tahap yang terlibat dalam Model-V tipikal dan bagaimana semuanya bersatu untuk menghasilkan produk jadi.
Selama fase awal ini, persyaratan dan analisis sistem dilakukan untuk menentukan kumpulan fitur dan kebutuhan pengguna. Sama seperti fase yang sama dari model air terjun atau metode serupa lainnya, menghabiskan cukup waktu dan membuat dokumentasi persyaratan pengguna secara menyeluruh sangat penting selama fase ini, karena ini hanya terjadi sekali.
Komponen lain yang unik untuk V-Model adalah bahwa selama setiap tahap desain, pengujian yang sesuai juga dirancang untuk diterapkan nanti selama tahap pengujian. Jadi, selama fase persyaratan, tes penerimaan dirancang.
Memanfaatkan umpan balik dan dokumen persyaratan pengguna yang dibuat selama fase persyaratan, tahap selanjutnya ini digunakan untuk menghasilkan dokumen spesifikasi yang akan menguraikan semua komponen teknis seperti lapisan data, logika bisnis, dan sebagainya.
Pengujian Sistem juga dirancang selama tahap ini untuk digunakan nanti.
Selama tahap ini, spesifikasi dibuat yang merinci bagaimana aplikasi akan menghubungkan semua berbagai komponennya, baik secara internal maupun melalui integrasi luar. Seringkali ini disebut sebagai desain tingkat tinggi.
Tes integrasi juga dikembangkan selama ini.
Fase ini terdiri dari semua desain tingkat rendah untuk sistem, termasuk spesifikasi terperinci untuk bagaimana semua fungsional, logika bisnis yang dikodekan akan diimplementasikan, seperti model, komponen, antarmuka, dan sebagainya.
Tes unit juga harus dibuat selama fase desain modul.
Pada titik ini, di tengah tahapan proses, pengkodean dan implementasi yang sebenarnya terjadi. Periode ini harus mengalokasikan waktu sebanyak yang diperlukan untuk mengubah semua dokumen desain dan spesifikasi yang dibuat sebelumnya menjadi sistem yang berkode dan fungsional. Tahap ini harus selesai sepenuhnya setelah tahap pengujian dimulai.
Sekarang proses tersebut bergerak kembali ke sisi jauh V-Model dengan pengujian terbalik, dimulai dengan pengujian unit yang dikembangkan selama fase desain modul. Idealnya, fase ini harus menghilangkan sebagian besar bug dan masalah potensial, dan dengan demikian akan menjadi fase pengujian proyek yang paling lama.
Meskipun demikian, sama seperti saat melakukan pengujian unit dengan model pengembangan lainnya, pengujian unit tidak dapat (atau tidak seharusnya) mencakup setiap kemungkinan masalah yang dapat terjadi dalam sistem, sehingga fase pengujian yang kurang terperinci yang harus diikuti harus mengisi celah ini.
Pengujian yang dirancang selama fase desain arsitektur dilaksanakan di sini, memastikan bahwa sistem berfungsi di semua komponen dan integrasi pihak ketiga.
Pengujian yang dibuat selama desain sistem akan dijalankan selanjutnya, sebagian besar berfokus pada pengujian kinerja dan regresi.
Terakhir, pengujian penerimaan adalah proses penerapan semua pengujian yang dibuat selama fase persyaratan awal dan harus memastikan bahwa sistem berfungsi dalam lingkungan langsung dengan data aktual, siap untuk diterapkan.
Cocok untuk Proyek yang Dibatasi: Karena sifat V-Model yang ketat serta fase desain, implementasi, dan pengujian liniernya, mungkin tidak mengherankan bahwa V-Model telah banyak diadopsi oleh industri perangkat medis dalam beberapa tahun terakhir. Dalam situasi di mana panjang dan ruang lingkup proyek ditentukan dengan baik, teknologinya stabil, dan dokumentasi & spesifikasi desainnya jelas, V-Model bisa menjadi metode yang bagus.
Ideal untuk Manajemen Waktu: Dengan nada yang sama, V-Model juga cocok untuk proyek yang harus mempertahankan tenggat waktu yang ketat dan memenuhi tanggal tonggak penting selama proses berlangsung. Dengan tahapan yang cukup jelas dan dipahami dengan baik yang dapat dengan mudah dipahami dan dipersiapkan oleh seluruh tim, relatif sederhana untuk membuat garis waktu untuk seluruh siklus hidup pengembangan, sambil menghasilkan tonggak sejarah untuk setiap tahapan di sepanjang jalan. Tentu saja, penggunaan BM sama sekali tidak memastikan tonggak sejarah akan selalu terpenuhi, tetapi sifat ketat model itu sendiri memaksakan kebutuhan untuk menjaga jadwal yang cukup ketat.
Sumber : https://qnp.co.id/blog/v-model-sdlc-definisi-dan-cara-menggunakannya/
Simple Interaction Design Model
Simple interaction design model merupakan sebuah model pengembangan software yang sederhana. Karakteristik dari model Simple interaction design adalah proses interactive design secara ekplesit antara penggabungan dari keterlibatan pengguna, iterasi, kriteria usability tertentu. Berikut ini merupakan gambar tahapan dari model Simple interaction design :
- Identify needs/Establish requirement : pada tahap ini, kita menerima masukkan dari satu titik, lalu di identifikasi apa saja kebutuhannya dan apakah sesuai dengan kebutuhannya. Sebelum menetapkan Establish requirement ada beberapa hal yang harus dipahami yaitu siapa penggunanya, dan apa tujuan yang mereka inginkan ketika menggunakan software yang akan rancang/dikembangkan ini.
- Design/(Re) Design : pada tahap ini dilakukan desain dan alternatif desain software dari kebutuhan yang diperlukan dan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan (dapat dengan meilhat desain orang lain sebagai referensi yang berguna). sedangkan Redesign adalah melakukan desain ulang dikarenakan hasil sebelumnya tidak sesuai dengan kebutuhan atau tidak sesuai dengan hasil evaluasi akhir.
- Build interactive versions : tahapan ini membuat sebuah prototype desain interaktif yang mana dapat memiliki fungsi terbatas. Sehingga penggembang dapat berkomunikasi dengan pengguna dengan mengujicobakannya. Jika terdapat design yang memiliki kesalahan/kekurangan/belum ada maka proses akan kembali ketahapan Redesign.
- Evaluate : tahapan ini, tahapan dimana pengguna mengevaluasi terhadap software yang telah di buat. Jika terdapat kekeliruan dari segi design maka tahapan akan kembali kepada tahap Redesign. Jika kesalahan terjadi karena kesalahan identifikasi kebutuhan maka akan kembali ketahapan Identify needs/Establish requirements. Jika telah sesuai kebutuhan pengguna maka ini akan menjadi final project.
- Melibatkan pengguna pada proses design dan evaluation.
- Tentukan kriteria dari quantifiable & measurable usability.
- Akan terjadinya iterasi yang tidak dapat di hindari.
Model Star life cycle diusulkan oleh Harton dan Hix di akhir 1980-an, sebagai hasil pengamatan yang luas dari pengembang di lingkungan real-time (Helms 2001).
Model ini merupakan model yang bersifat elastis tidak seperti model waterfall yang bersifat sangat kaku. Model Star life cycle memiliki karakteristik yaitu melakukan pengujian secara terus-menerus, hal ini disebabkan karena semua tahapan selalu di lakukan evaluasi. Berikut ini gambaran dari tahapan model Star life cycle :
Dapat dilihat di setiap tahapan memiliki input dari luar (dari berbagai sumber) untuk dilakukan kegiatan sesuai dengan tahapan yang bersangkutan lalu dilakukan evaluasi. Berikut ini merupakan penjelasan dari setiap tahapan yang terdapat pada model Star life cycle :
- Task analysis/Functional analysis : tahapan ini, akan melakukan functional analysis dari input yang di berikan yang kemudian akan dilakukan evaluation.
- Requrements/Specification : tahapan ini, akan mengumpulkan informasi terkait dengan kebutuhan dan segala sesuatu yang bersangkutan dengan software yang akan dikembangkan, lalu dilakukan tahapan evaluation.
- Conceptual design/Formal design representation : tahapan ini akan mendesain sebuah desain konseptual dari software yang akan dikembangkan bersadarkan semua inputan yang masuk ketahapan ini. Kemudian dilakukan tahapan evaluation.
- Prototyping : Sama halnya seperti tahapan pada Simple interaction design model. dimana prototype merupakan desain interaktif yang memiliki fungsi terbatas yang akan di ujicobakan kepada pengguna lalu melakukan tahap evaluation.
- Implementation : tahapan ini merupakan tahapan dimana software diimplementasikan dan digunakan oleh pengguna lalu dilakukannya tahap evaluation.
- Evaluation : tahapan ini adalah melakukan evaluasi terhadap setiap tahapan yang menggunakan tahapan ini untuk melihat apakah hal yang dilakukan pada tahapan sebelumnya telah sesuai dengan kebutuhan terbaru dari pengguna lalu memberikan feedback terhadap tahapan sebelumnya.
Isaias, P. Issa, T, (2015) High Level Models and Methodologies for Information Systems, Springer Science+Business Media New York 2015

Komentar
Posting Komentar